Tentang Kita-Tentang Pertemuan, Kehilangan, dan Orang Yang Tetap Memilih Tinggal

Sinopsis :
Langit Jakarta sore itu perlahan berganti warna, membaurkan semburat jingga yang hangat di cakrawala kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di sudut taman tempat langkah kami sering kali melambat, aku menyadari satu hal yang berharga: waktu tidak pernah berjalan mundur, tetapi ia selalu menyisakan ruang bagi hati untuk bertumbuh.
Perjalanan yang telah kami lalui bukanlah sebuah garis lurus yang mulus. Ada babak ketika jarak memaksa kami memendam rindu yang teramat riuh, ada fase ketika kesibukan egois menyita ruang tegur sapa, dan ada malam-malam panjang yang dihabiskan hanya untuk merutuki ketakutan akan masa depan. Kami pernah menjadi dua orang asing yang terjebak dalam kenangan sendiri, saling mencari jalan pulang di tengah labirin ekspektasi orang lain yang melelahkan.
Namun, di sinilah kami pada akhirnya. Bukan sebagai sepasang manusia yang sempurna tanpa luka, melainkan sebagai dua pribadi yang memilih untuk saling menggenggam meski dunia sedang tidak berjalan dengan mudah.
Natan mengajarkanku bahwa mencintai tidak selalu berarti harus menuntut kepastian di setiap tikungan jalan. Kadang-kadang, cinta hanya berupa kesediaan untuk tetap tinggal, mendengarkan keluh kesah di penghujung hari yang melelahkan, serta menjadi pendukung pertama bagi mimpi-mimpi yang sedang dikejar. Dari dirinya, aku belajar bahwa rumah terbaik bukanlah sebuah tempat atau bangunan mati, melainkan jiwa seseorang yang mampu membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri.
Kini, menjelang tahun terakhir di putih abu-abu, pertanyaan tentang masa depan tentu saja masih terus berdatangan. Aku belum memiliki seluruh jawaban atas ke mana angin akan membawa langkah kami setelah ini. Mungkin esok hari akan ada jarak baru, tantangan yang lebih berat, atau pilihan hidup yang memaksa kami beradaptasi lagi. Akan tetapi, ketakutan itu tidak lagi terasa melumpuhkan seperti dahulu.
Kami telah belajar dari masa lalu bahwa apa yang benar-benar ditakdirkan untuk bersama, sejauh apa pun ia terlempar oleh keadaan, ia akan selalu menemukan celah untuk kembali pulang.
Aku menoleh ke arah Natan yang duduk di sampingku, memperhatikan senyum tipisnya yang selalu berhasil menenangkan badai di dalam kepalaku. Tidak ada janji-janji manis yang berlebihan di antara kami, sebab kami tahu tindakan nyata jauh lebih berharga daripada untaian kata.
Kisah tentang kita mungkin tidak pernah tertulis dengan kesederhanaan sejak awal mulanya. Ia dipenuhi air mata, kesalahpahaman, dan ruang tunggu yang panjang. Namun, justru lewat semua kerumitan itulah, kebahagiaan yang kami dekap hari ini terasa begitu bermakna.
Sore pun luruh menjadi malam, membawa kami bersiap menyambut hari baru yang belum tertebak. Bagiku, ini bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan sebuah babak baru yang siap kami lukis bersama-sama. Karena selama harapan itu masih dirawat dengan baik, kisah tentang kita tidak akan pernah benar-benar selesai. Aku, Farisya Marsya, bersyukur atas segala pertemuan, kehilangan, dan kesempatan kedua yang telah diberikan oleh kehidupan. Terima kasih telah bersedia menjadi tempatku berpulang, Natan Abyan Pradipta.
=========================================
| SPESIFIKASI | |
| Penulis | Friska Maujiah Maras |
| Penerbit | INDOCAMP |
| Jumlah Halaman | 106 Halaman |
| Ukuran | 14,5 x 20,5 cm |
| ISBN | On Process |
Buku ini juga tersedia di Marketplace
Shopee : INDOCAMP
Happy Shoping 🙂








